Budidaya Jamur Tiram

PENDAHULUAN

Jamur tiram (Pleurotus sp.) merupakan salah satu jenis jamur yang sangat enak dimakan dan mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi. Jenis jamur ini mempunyai sifat adaptasi dengan lingkungan yang cukup baik dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi, sehingga tidak mengherankan apabila jenis jamur ini mulai banyak dibudidayakan.

Saat ini permintaan pasar untuk jenis jamur tiram masih cukup tinggi, sementara pasokan masih terbatas oleh karena petani yang mengusahakan jamur tiram masih sangat terbatas. Sentra produksi jamur tiram di Jawa Barat adalah di Cisarua Lembang yang sudah dikelola oleh koperasi jamur.

Oleh karena itu usaha tani jamur tiram apabila diusakan dengan baik mempunyai prospek yang baik sebagai tambahan penghasilan para petani.

JENIS-JENIS JAMUR TIRAM

1.      Jamur Tiram Putih (var. florida)

Jamur jenis ini mempunyai tubuh buah berwarna putih, merupakan jenis jamur yang banyak dibudidayakan.

2.      Jamur Tiram Coklat (var. cystidiosus)

Jamur jenis ini mempunyai tudung bagian atas berwarna coklat, juga merupakan jenis jamur yang banyak diusahakan karena memiliki rasa lebih enak (seperti jamur alam), jamur ini lebih kering sehingga daya simpan lebih lama.

3.   Jamur Tiram Abu-abu (var. sajor caju)

Tudung bagian atas berwarna abu-abu.

4.   Jamur Tiram Merah (var. flabellatus)

Jenis jamur ini mempunyai tubuh buah berwarna merah, jarang dibudidayakan karena kurang disukai.

SYARAT TUMBUH

1.   Suhu

Suhu inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium berkisar antara 22-28o C, sedangkan suhu saat pertumbuhan jamur berkisar antara 16-22o C.

2.   Kelembaban

Kelembaban pada masa inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium dipertahankan antara 60-70 %, sedangkan kelembaban pada saat pertumbuhan jamur antara 80-90 %.

3.   Cahaya

Pertumbuhan jamur sangat peka terhadap cahaya secara langsung. Intensitas cahaya yang diperlukan saat pertumbuhan jamur sekitar 10 %, sedangkan saat pertumbuhan miselium tidak diperlukan cahaya.

4.   Air

Kandungan air dalam media berkisar antara 60-65 %, apabila kondisi media kering maka pertumbuhan jamur akan terganggu, begitu pula sebaliknya apabila kandungan air media terlalu tinggi maka miselium akan membusuk dan mati. Penyemprotan uap air kedalam ruangan dapat dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban.

5.   pH

Tingkat kemasaman (pH) sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. pH media perlu diatur antara 6-7 dengan menggunakan kapur (Ca CO3).

TEKNOLOGI BUDIDAYA

1.      Bahan dan Alat

–          Serbuk Gergaji kering yang sudah diayak.

–          Bahan Campuran terdiri dari bekatul, tepung jagung, kapur (Ca CO3), Gips (Ca SO4), TSP atau NPK serbuk.

–          Cincin paralon/cincin bamboo.

–          Plastik polypropylene tahan panas.

–          Lampu spirtus, alkohol, pinset, sendok.

–          Kapas/majun

2.   Penyiapan Media

Media tumbuh jamur tiram terdiri atas campuran : serbuk gergaji 100 kg, bekatul 15 kg, kapur (Ca CO3) 2 kg, dedak jagung 2 kg, NPK serbuk 0,7-1 kg.

Bahan-bahan dicampur rata dengan kadar air 60 %, dengan cara memerciki campuran dengan air. Selanjutnya campuran media dimasukkan kedalam kantong plastik dan dipadatkan. Pemadatan dapat dilakukan secara manual dengan tangan. Pengisian kantong plastik dilakukan setinggi + 2/3 atau 3/4  bagian. Pada mulut plastik dipasang cincin paralon/bambu selanjutnya mulut lubang cincin ditutup dengan kapas/majun.

3.   Sterilisasi

Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan autoklap pada suhu 120o C selama 1-2 jam, atau dikukus dengan suhu 95-100o C selama 8-10 jam.

Setelah dilakukan sterilisasi media dikeluarkan dan didinginkan.

4.   Inokulasi (pembibitan)

Setelah media dingin dilakukan inokulasi/ pembibitan dengan cara membuka penutup kapas dan memasukan bibit pada media bagian atas atau pada lubang yang telah dibuat dengan sendok steril selanjutnya lubang ditutup kembali dengan kapas.

5.   Inkubasi

Kantong polybag (log) yang telah diisi bibit diinkubasikan (disimpan) pada rak-rak pertumbuhan sehingga terbentuk barisan-barisan sambil menunggu pertumbuhan miselium keseluruh media.

Setelah seluruh media ditumbuhi miselium jamur, maka dibuat lubang pada permukaan bagia atas polybag (dekat tutup) atau polybag bagian atas dibuka untuk memberikan tempat munculnya tubuh jamur. Jika calon jamur sudah tumbuh dan berumur 15 hari, maka jamur siap untuk dipanen.

6.   Panen

Jamur tiram siap dipanen bila ukurannya sudah optimal yang ditandai dengan ciri-ciri jamur sudah mulai mengerut atau keriting dan bagian pinggir tudung sudah mulai menipis. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut seluruh bagian jamur.

Kubung dengan ukuran 5 x 15 m berisi 5000- 7000 log dengan kapasitas produksi 1500- 3000 kg/musim atau 0,3 – 0,5 kg/log.

7.   Pascapanen

Sifat jamur tiram sama dengan jenis sayuran lainnya yaitu mudah rusak, yang membedakan adalah pada sayuran lain yang mongering kualitasnya akan menurun sedangkan jamur kuping yang mengering tidak akan mengalami penurunan kualitas asal pengeringannya dilakukan dengan sempurna. Jamur kuping setelah dipanen kemudian dibersihkan  dari kotoran dan serbuk gergaji yang menempel sehingga jamur terlihat lebih menarik.

HAMA DAN PENYAKIT

Biasanya ada polybag yang terkontaminasi dengan jamur lain, biasanya Trichoderma sp. dengan ciri adanya pertumbuhan miselium yang berwarna hijau seperti lumut. Polybag yang terkontaminasi harus diambil dan dimusnahkan. Hama yang biasa menyerang adalah lalat yang menyerang pada fase pertumbuhan jamur dapat merusak miselium.

ANALISIS USAHATANI JAMUR TIRAM

(Untuk Kapasitas 10.000 log)

Uraian Volume Harga Satuan 

(Rp)

Jumlah 

(Rp)

A.     Biaya Tetap 

1.      Sewa Lahan/Tahun

2.      Bangunan pemeliharaan

3.      Alat sterilisasi, kompor, semawar, tabung gas, selang

 

100 m2

1 unit

1 unit

 

5.000

10.000.000

1.000.000

 

500.000

10.000.000

1.000.000

Jumlah Biaya Tetap 11.500.000
B.  Biaya Tidak Tetap 

1.  Serbuk Gergaji

2.  Bekatul

3.  Tepung Jagung

4.  TSP Murni

5.  Gips

6.  Bibit

7.  Plastik

8.  Cincin Paralon

9.  Kapas/Majun

10. Minyak Tanah

11. Tenaga Kerja :

a. Pengantongan

b. Pembibitan

c. Sterilisasi

d. Pemeliharaan

e. Panen dan Pascapanen

 

150 karung

300 kg

40 kg

20 kg

15 kg

250 log

90 kg

10.000 buah

10.000

500 liter

40 HOK

10 HOK

5 HOK

10 HOK

10 HOK

 

3.500

1.000

2.000

12.000

5.000

3.500

20.000

50

25

2.500

20.000

20.000

20.000

20.000

20.000

 

525.000

300.000

80.000

240.000

75.000

875.000

1.800.000

500.000

250.000

1.250.000

800.000

200.000

100.000

200.000

200.000

Jumlah Biaya Tidak Tetap 7.395.000
Total Biaya Produksi 18.895.000
C. Pendapatan selama 1 siklus produksi (4 bulan). 

– Hasil jamur dari 10.000 log

– Dikurangi kegagalan 10 %

 

3.000 kg

300 kg

 

5.000

5.000

 

15.000.000

1.500.000

Total Pendapatan 13.500.000

CASHFLOW SELAMA 1 TAHUN

URAIAN Musim I Musim II Musim III Total
A. Pengeluaran 

– Biaya Tetap

– Biaya Tidak Tetap

 

11.500.000

7.395.000

 

0

7.395.000

 

0

7.395.000

 

11.500.000

22.185.000

Jumlah Pengeluaran 18.895.000 7.395.000 7.395.000 33.685.000
B.  Pendapatan 

– Hasil jamur 10.000 log

3000 kg x Rp 5.000

– Kegagalan 10 %

 

15.000.000

1.500.000

 

15.000.000

1.500.000

 

15.000.000

1.500.000

 

45.000.000

4.500.000

Jumlah Pendapatan 13.500.000 13.500.000 13.500.000 40.500.000
C. Keuntungan – 5.395.000 6.105.000 6.105.000 6.815.000

BEP PRODUKSI                   : 33.685.000 / 5.000                =  6.737

BEP HARGA                         : 33.685.000 / 9.000                =  3743

R/C RATIO                            :  40.500.000 / 22.185.000      =  1,8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s