Pemberdayaan Lumbung Pangan



Pemberdayaan Lumbung Pangan Masyarakat
Gizi.net – Pemberdayaan Lumbung Pangan Masyarakat

Oleh Ardi Jayawinata
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1998 sampai saat ini telah berdampak pada menurunnya kualitas ketahanan pangan masyarakat, khususnya pada tingkat rumah tangga. Kondisi ini telah mengingatkan kita kepada peranan lumbung pangan masyarakat sebagai salah satu sarana penopang maupun coping mechanism bagi perwujudan ketahanan pangan masyarakat.

Pada saat krisis yang baru lalu tersebut, lumbung pangan masyarakat yang tersebar di seluruh pedesaan telah berperan penting dalam mengatasi sebagian kesulitan yang dialami masyarakat setempat, terutama para anggotanya.

Kelembagaan lumbung pangan masyarakat saat ini, yang masih pada tingkatan sederhana dan berorientasi sosial, mempunyai potensi untuk dikembangkan dan direvitalisasi melalui proses pemberdayaan secara sistematis, utuh, terpadu dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh unsur terkait. Upaya ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perwujudan ketahanan pangan, dan lembaga sosial ekonomi masyarakat ini mampu menjadi lembaga penggerak ekonomi perdesaan.

Paling tidak kita menemukan dua alasan pokok mengapa upaya pemberdayaan kelembagaan lumbung pangan masyarakat perlu dilakukan pada pascakrisis ekonomi. Pertama, kelembagaan alternatif yang pernah diupayakan untuk menggantikan peran lumbung pangan dengan mengintegrasikan seluruh lembaga ekonomi sosial pedesaan dalam satu organisasi modern tidak memberikan hasil yang diharapkan dan menyebabkan petani selalu dihadapkan dalam posisi yang lemah. Kedua, lumbung pangan terbukti memiliki potensi dan daya adaptasi yang lebih tinggi dari jenis-jenis kelembagaan masyarakat lainnya. Pengalaman pada saat krisis ekonomi yang baru lalu telah memberikan pelajaran bagi kita bahwa lumbung pangan cukup efektif melayani kebutuhan pangan anggotanya.

Revitalisasi
Mengingat peran dan potensi kelembagaan lumbung pangan saat ini, pemerintah telah dan akan melakukan berbagai upaya terkait dengan pemberdayaan kelembagaan lumbung pangan masyarakat. Pada tahun 2002, upaya tersebut diimplementasikan melalui Program Aksi Pemantapan Ketahanan Pangan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2002 kegiatan ini dilaksanakan di 13 provinsi yang meliputi 57 kabupaten dan melibatkan 121 kelompok lumbung. Sedangkan untuk tahun 2003, upaya pemberdayaan lumbung pangan makin diperluas sasarannya yang mencakup 20 provinsi dan 96 kabupaten serta 330 kelompok lumbung.

Program aksi pemantapan ketahanan pangan ini memperkenalkan Pola Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM), yaitu berupa pemberian pinjaman sejumlah dana untuk penguatan modal kelompok tani yang disalurkan langsung ke rekening kelompok tani dan dikelola secara terorganisasi dengan asas kebersamaan untuk usaha produktif dengan mekanisme pemupukan modal.

Pola BPLM ini akan menjadi efektif dalam memperkuat permodalan petani jika lima tahapan kunci yang merupakan simpul-simpul kritis dalam implementasinya dapat dilaksanakan dengan baik. Kelima tahapan tersebut adalah: seleksi calon petani dan calon lokasi (CP/CL) secara partisipatif, penyaluran dana dari keproyekan ke rekening kelompok tepat waktunya, proses pemberdayaan kelembagaan kelompok tani berjalan secara efektif dan terprogram, pencairan dana oleh petani berdasarkan perencanaan partisipatif, dan (5) Penggunaan dana oleh kelompok sesuai perencanaan dan menerapkan prinsip-prinsip usaha berkelanjutan.

Bantuan pinjaman langsung ini sifatnya hanya merupakan pemicu dalam bentuk pinjaman yang wajib dikembalikan. Dengan demikian, kelompok sasaran tidak memperolehnya secara cuma-cuma, namun harus mengembalikan dengan tingkat suku bunga yang disepakati bersama di dalam kelompok sesuai dengan kondisi daerahnya. Pengembalian pinjaman BPLM ini dilakukan secara bertahap.

Jumlah dana yang dipinjamkan sebesar 25 juta rupiah untuk setiap kelompok lumbung. Dana ini bersumber dari anggaran pemerintah yang pemanfaatannya dilakukan dalam format penguatan modal usaha, penumbuhan kegiatan ekonomi, dan peningkatan kewirausahaan. Dalam implementasi di lapangan, kelompok diberikan keleluasaan untuk menentukan prioritas jenis usaha yang akan dilakukan seperti untuk simpan pinjam, pembelian saprodi, atau proses penanganan pascapanen. Selanjutnya kelompok sasaran dibina dan diarahkan agar mampu mengakses pada sumber permodalan dari lembaga keuangan yang ada.

Pendampingan
Untuk dapat lebih meningkatkan keefektifan proses pemberdayaan, dilakukan kegiatan pendampingan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan berbagai kegiatan yang terkait dengan kebutuhan anggota, membangun kemampuan dalam meningkatkan pendapatan, melaksanakan usaha yang berskala bisnis, serta mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang partisipatif.

Pembinaan kepada kelompok tani secara umum dilakukan secara berkesinambungan dan terarah oleh instansi terkait terutama dalam hal perencanaan usaha kelompok, prosedur permohonan bantuan, prosedur pengadministrasian/pembukuan pengelolaan dana, cara-cara menghitung bunga, pembayaran angsuran dan pelunasan pinjaman.

Program ini akan berhasil apabila dari sisi manajemen yaitu dana penguatan modal tersalurkan langsung kepada kelompok tani sesuai kriteria, sehingga terjadi akumulasi modal usaha kelompok (tabungan kelompok). Dari sisi teknis, terjadinya peningkatan produksi dan produktivitas usaha tani dan pendapatan anggota kelompok tani penerima bantuan. Dan dari sisi perubahan perilaku, yaitu perubahan perilaku anggota kelompok/para petani dari kebiasaan bekerja sendiri-sendiri menjadi bekerja berkelompok atau secara bersama untuk menumbuhkan kelompok tani yang maju dan mandiri.

Dalam jangka pendek diharapkan kelembagaan lumbung pangan masyarakat yang telah diberdayakan tersebut dapat meningkatkan manajemen pengelolaannya sehingga dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan dalam jangka panjang diharapkan mampu menjadi lembaga penggerak ekonomi perdesaan.

Penulis adalah Kepala Bidang Pola Pemberdayaan, Pusat Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat, Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian.

Sumber:
http://www.suarapembaruan.com/last/index.htm

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s