Peluang dan Tantangan Pertanian Organik

PENDAHULUAN

Dewasa ini pertanian organik berkembang cukup pesat di Indonesia. Ini merupakan suatu tanda positif bahwa pertanian organik mulai mendapat perhatian masyarakat baik produsen maupun konsumen. Namun demikian perkembangan yang positif ini perlu dicermati agar tidak memunculkan bias-bias yang justru merugikan kehidupan dimasa depan.

KOMPONEN PERTANIAN ORGANIK

1. Lahan

Lahan yang dapat dijadikan lahan pertanian organik adalah lahan yang bebas cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida. Terdapat dua pilihan lahan : (1) lahan pertanian yang baru dibuka, atau (2) lahan pertanian intensif yang dikonversi untuk lahan pertanian organik. Lama masa konversi tergantung sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida dan jenis tanaman. Lahan yang bisa mendukung pertanian organik adalah lahan yang tergolong subur dan juga mempertimbangkan sumber air dan potensial cemaran dari lahan non organik disekitarnya.

2. Budidaya Pertanian Organik

Aspek teknik budidaya dalam pengelolaan pertanian organik perlu mendapat perhatian tersendiri. Sebagai contoh teknik bertani sayuran organik perlu memperhatikan hal-hal berikut :

  • Tanaman ditanam pada bedengan-bedengan dengan ukuran bervariasi disesuaikan dengan kondisi lahan.
  • Menanam strip rumput disekeliling bedengan untuk mengawetkan tanah dari erosi dan aliran permukaan.
  • Mengatur dan memilih jenis tanaman sayuran dan legume yang sesuai untuk system tumpangsari seperti lobak, bawang daun dengan kacang tanah dalam satu bedengan.
  • Mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legume dalam setiap musim tanam. Mengembalikan sisa panen/serasah tanaman ke dalam tanah (bentuk segar atau kompos).
  • Memberikan pupuk organik (pupuk hijau, pupuk kandang dan lainnya) hingga semua unsure hara yang dibutuhkan tanaman menjadi tersedia.
  • Menanam kenikir, kemangi, tephrosia, lavender dan mimba diantara bedengan untuk pengendalian hama dan penyakit.
  • Menjaga kebersihan areal penanaman.

3. Aspek penting lainnya.

Dalam pertanian organik yang sesuai dengan standar yang ditetapkan secara umum adalah mengikuti aturan berikut :

  • Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetika, sebaiknya berasal dari kebun pertanian organik.
  • Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis, ZPT, pestisida. Pengendalian hama dilakukan dengan cara mekanis, biologis dan rotasi tanaman.
  • Peningkatan kesuburan tanah dilakukan dengan cara alami melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam dan rotasi dengan tanaman legume.

PERMASALAHAN PERTANIAN ORGANIK

1. Penyediaan Pupuk Organik

Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai hara utama. Padahal dalam pupuk organik kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah hara yang dihasilkan pupuk anorganik seperti Urea, TSP dan KCl. Karena umumnya petani kita bukan petani yang memiliki lahan dan ternak sekaligus, sehingga mereka harus membeli dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi disamping tenaga yang lebih besar.

2. Teknologi Pendukung

Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legume sebagai tanaman penyumbang nitrogen dan unsure hara lainnya sangatlah membantu dalam pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit sangat diperlukan terutama pada budidaya pertanian organik di musim hujan.

3. Pemasaran

Pemasaran produk pertanian organik di dalam negeri saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan antara pihak produsen dan konsumen. Sedangkan pemasaran ke luar negeri masih sulit ditembus, kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu Negara yang akan dituju.

4. Sertifikasi dan Standarisasi

Beberapa lembaga standarisasi :

  • Standar Internasional (IFOAM)
  • National dan Supranational Regional.
  • Standar setiap Negara.

Departemen pertanian telah menyusun standar pertanian organik di Indonesia tertuang dalam SNI 01-6729-2002. Sistem pertanian organik menganut paham organik proses, artinya semua proses dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, bukan dilihat dari produk organik yang dihasilkan.

KESIMPULAN

Sasaran jangka pendek dari sistem pertanian organik adalah kesadaran masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis seperti pupuk kimia dan pestisida. Dan untuk jangka panjang potensi pasar produk organik di dunia terbuka lebar bagi Indonesia.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: